*Saat Ambil Ijazah
Oleh Paul J Bataona
MBAY (FLORES POS) -- SMAK Setiawan Nangaroro memungut uang Rp200 ribu per siswa saat mereka mengambil ijazah. Pungutan ini dinilai sumbangan, tetapi orang tua siswa menilainya sangat memberatkan mereka.
Piter Seso, salah satu orang tua siswa kepada Flores Pos, Sabtu (20/6) mengatakan, orang tua murid sangat berkeberatan dengan pungutan tersebut karena tidak jelas alasannya. Ada yang bilang uang itu untuk kepentingan transportasi, ada yang bilang untuk uang pembangunan, dan alasan lainnya.
“Terlalu banyak alasan yang tidak jelas. Kami keberatan karena tidak mengetahui untuk kepentingan apa uang Rp200.000 yang dipungut tiap siswa itu,” katanya.
Kepala SMAK Setiawan Nangaroro, Siprianus Laki Tay ketika dikonfirmasi per telepon selulernya mengatakan, sekolah memang memungut dana Rp200 ribu per siswa saat mereka ambil ijazah. Namun pungutan ini diambil berdasarkan kesepakatan bersama sekolah dan komite.
Dikatakan Laki Tay, uang ini akan digunakan untuk pembangunan ruang kelas baru sebagai bentuk kontribusi para siswa terhadap almamaternya dan juga sebagiannya dipakai untuk kepentingan administrasi pengurusan ijazah.
“Kalau ada yang tidak beres, sebaiknya orang tua datang ke sekolah dan kami bicarakan bersama di sana,” katanya.
SMAK Setiawan, kata dia, adaah sekolah swasta dan benar-benar menerapkan otonomi sekolah. Kesepakatan itu diambil saat rapat sebelum pembagian amplop dilakukan. Tetapi jika ada siswa yang tidam mampu membayar sebesar Rp200 ribu maka angka itu bukan harga mati. “Namanya juga sumbangan, berapa yang diberikan, itulah yang akan diterima sekolah,” katanya.
Pada tahun ini sekolah tersebut mendapatkan dana bantuan block grand senilai Rp110.000.000 tetapi ada juga kontribusi dari sekolah senilai 25 persen untuk kegiatan pembangunan ruang kelas. “Ini otonomi sekolah, bantuan pemerintah memang ada tetapi sering datang terlambat,” katanya.*
Selengkapnya...
23 Juni 2009
Sekolah Pungut Uang Rp200 Ribu per Siswa
21 April 2009
TRK Wokoledu Sekolah di Kapela Darurat
Oleh Anton Pandong
BORONG -- Anak-anak sekolah di TRK Wokoledu Desa Langgasai Kecamatan Elar dengan tiga rombongan belajar dan 2 tenaga guru komite sekolah di kapela darurat Wokoledu.Kapela ini dibangun secara swadaya oleh umat.
Demikian tokoh masyarakat Langgasai Vinsen Jala, Minggu (19/4). Dia mengatakan, TRK ini tergolong tua dibangun tahun 1988 dan kegiatan belajar mengajarnya sempat dipindahkan ke Liang Lejang dan namanya diganti dengan TRK Liang Lejang sejak 2006-2008. Sekarang sudah pindah lagi ke lokasi awal di Wokoledu, katanya.
Menurut dia, jarak Wokoledu dengan sekolah induk SDI Ratalai sekitar 7 km. Ada beberapa siswa dari Wokoledu yang sekolah di kabupaten Ngada karena aspek jarak dan kemudahan lainnya, katanya. Masyarakat setempat minta pemda memperhatikan sekolah itu.
Kadis PKPO Manggarai Timur Mus Deo mengatakan, akan cek kondisi di TRK itu. Anggota DPRD Manggarai Timur dari Elar Maria Wanan mendesak pemda memperhatikan kondisi dan status TRK itu.*
AKTE KELAHIRAN -- Pemerintah Manggarai Tiur memberikan dispensasi urus akte kelahiran selama satu tahun terhitung sejak Maret 2009 hingga Maret 2010. Di luar waktu dispensasi tersebut, jika mengurus akte maka akan dikenakan denda Rp1 juta sesuai dengan amanat UU 23/2006 tentang administrasi kependudukan.
Demikian Kadis Kependudukan Catatan Sipil dan Tenaga Kerja Transmigrasi Manggarai Timur, Hendrikus Ganggur, Senin(20/4) di ruang kerjanya di Borong. Dia mengatakan, dispensasi ini termuat dalam Peraturan Bupati Manggarai Timur No 4/2009. Menurut dia, peraturan ini hanya berlaku satu tahun saja.
"Masyarakat harus menggunakan masa waktu ini untk mengurus akte kelahiran dengan biaya yang terjangkau sesuai aturan," katanya.
Dia mengatakan, jika di luar waktu itu baru warga urus akte kelahiran, yang bersangkutan dikenakan denda sesuai aturan, sebesar satu juta rupiah. "Urus akte sekarang, jangan ditunda," katanya* anton pandong
Selengkapnya...
02 April 2009
Alumni STFK Ledalero
Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero berusia 40 tahun.
Oleh Frans Obon
MINGGU, 22 Maret 2009, beberapa orang alumni Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero berkumpul di gedung milik Suster Ursulin di Jln Wirajaya Ende. Ada Piet Puli, Alo Belawa Kelen, Frans Obon, Benyamin Ndaeng, Alex Reba, Yoseph Jarawaru, Alex Radja Seko, Gildus, Ambros Sewe dan Abdon Boli Wuwur. Yang lainnya belum sempat hadir karena kesibukan. Jumlah alumni STFK Ledalero di Ende sekitar 33 orang. Mungkin saja lebih dari itu. Belum terdaftar semua. Ini baru deretan para awam. Belum dihitung para pastor.
Tiap alumni mendapat sepucuk surat dari Pater Konrad Kebung Beoang SVD dan Pater Yanuarius Lobo SVD (bekas prefek saya di tingkat V). Isinya agar alumni STFK Ledalero “melihat kembali” almamaternya. Sumbangan alumni bisa macam-macam rupa: pikiran, finansial, doa, dan segala macamnya untuk kepentingan pengembangan sekolah tinggi filsafat ini ke depan.
Tanggal 22-23 Mei nanti ada pertemuan (sharing) para alumni di Ledalero. Pertemuan ini dalam rangka usia 40 tahun Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero. Kesempatan ini akan menjadi begitu penting untuk merasakan kembali denyut kehidupan almamater, sumbangannya bagi pembentukan jati diri alumni, dan momen merasakan bersama Gereja (sentire cum ecclesiae) apa yang menjadi kecemasannya, apa yang menjadi harapannya, dan apa yang menjadi impiannya ke masa depan untuk membentuk generasi baru di Flores.
Gagasan menyatukan alumni yang tersebar di mana-mana dan dalam bidang karya masing-masing disambut baik. Peserta pertemuan punya kata yang sama: Ledalero telah memberi kita dan apa yang dapat kita berikan untuk Ledalero. Dia ibarat ibu yang telah melahirkan anak-anaknya tanpa menuntut banyak bakti dari anak-anaknya. Alumninya telah dimatangkan oleh matahari dari ufuk timur yang bersandar di bukit Ledalero. Ibarat komoditas yang dipanen dengan matang, dijemur di bawah terik matahari. Hanya ada satu tujuan: menghasilkan “komoditas yang berkualitas”. Kualitas mungkin relatif. Tergantung pada penerimaan masing-masing orang. Segala sesuatunya diterima menurut cara si penerima dengan segala keunikan dan keterbatasannya. Dia ibarat talenta yang dibagikan: masing-masing orang menggenggam talenta menurut kemampuannya. Dia keluar dari Ledalero dengan talenta di tangan. Dia tanamkan itu di tempatnya masing-masing sehingga menghasilkan buah kebaikan di lingkungan sekitarnya.
Bisa juga ibarat benih. Ada yang jatuh di tanah yang subur. Ada yang setengah subur. Bahkan ada yang tumbuh di antara ilalang. Semua itu telah mewarnai kehidupan alumni Ledalero.
Tiap orang punya pengalamannya sendiri bagaimana dia meninggalkan Ledalero. Apa alasannya. Apa pula impiannya. Ke mana dia akan mencari tantangan baru. Ke mana perahu hendak berlayar. “Oh bayu senja, hembusan sang Ilahi. Bawa bidukku ke tepian yang cerah. Pantai umat tebusan” begitu lagu yang tiap kali menggema di Ledalero ketika para frater merayakan ekaristi.
Kita telah menerima dari Ledalero. Lalu, apa yang dapat kita berikan ke Ledalero. Ini satu pertanyaan penting. Menggema di hati tiap alumni. Tidak ada yang muluk-muluk.
Mungkin kita masih ingat mantan Gubernur NTT Herman Musakabe. Dia mengkampanyekan gerakan cinta almamater. Satu dari tujuh program strategisnya adalah meningkatkan sumber daya manusia NTT. Salah satu institusi yang melahirkan sumber daya manusia itu adalah institusi pendidikan. Pilihan ini adalah pilihan mendasar yang juga dilakukan oleh Gereja Katolik di Nusa Tenggara. Tiga bidang utama yang menjadi perhatian Gereja: pendidikan, kesehatan dan ekonomi.
Ketika masih kecil, kampung saya yang berada di jalur Reo-Ruteng, Manggarai saya selalu mendengar nama beken Suster Virgula SSpS dari Cancar. Dari kampung ke kampung dia bersama tim medisnya melayani dengan sungguh, sabar dan tekun penduduk-penduduk miskin di pedesaan. Dia ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang mau mendapatkan pelayanan kesehatan. Banyak para pastor juga tidak hanya melayani misa di paroki dan berdoa secara pribadi untuk mencapai kekudusan pribadi, tapi melayani umat dengan sekuat tenaga dalam hal ekonomi dan pendidikan. Mereka berjalan kaki dari sekolah ke sekolah. Sekolah menjadi medan karya pastoral yang bagus. Mereka membangkitkan swadaya umat untuk berpartisipasi dalam membangun pendidikan.
Sudah sejak awal Gereja menyadari arti penting gender. Gereja membuka sekolah untuk putri-putri Flores. Memberi mereka kesempatan yang sama seperti laki-laki untuk mengenyam pendidikan dan menguasai keterampilan. Kita ingat SKKP. Sekolah-sekolah yang dikhususkan bagi putri.
Gereja Katolik memperkenalkan cara baru dalam pertanian. Bersama awam Katolik, Gereja Katolik membuka sekolah pertanian di Boawae. Sekarang tamatan sekolah ini banyak menjadi tenaga penyuluh lapangan (PPL) di birokrasi pemerintahan. Sampai sekarang sekolah itu masih aktif memproduksi tenaga terampil di bidang pertanian. Saya baru kembali dari sekolah tersebut dua pekan lalu untuk menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT). Jumlah muridnya 400 orang. Datang dari berbagai daerah di NTT.
Sekarang banyak orang yang telah menikmati usaha ini, mengkritik model pendekatan pastoral ini dengan mengatakan, “pastor sak semen”. Kritikan ini mungkin ingin menekankan adanya proporsionalitas di dalam karya antara pewartaan iman dan pembangunan ekonomi. Namun di balik usaha itu, tampaknya ada keprihatinan mendalam dari para pastor mengenai kehidupan ekonomi umat. Kalau mau cari enak dan mau mencari kekudusan pribadi, duduk saja di pastoran, Menunggu orang datang. Atau pergi kunjung umat di stasi, kampung, atau sekolah-sekolah. Tapi banyak pastor tidak mau tidur nyenyak di pastoran. Mereka gelisah dengan kondisi ekonomi umat, kondisi kesehatan umat dan pola hidup umat. Mereka melakukan sesuatu. Mereka memberikan apa yang mereka bisa berikan. Tanpa menuntut lebih dari umat. Dan sampai sekarang banyak imam yang selalu gelisah melihat situasi umatnya.
Kita telah menerima semua itu dari tangan imam. Saya tidak ingin katakan semua hal mereka kerjakan untuk kita. Tapi mereka mengambil peran di bidang yang strategis, yang jadi simpul, yang bisa menggerakkan sesuatu. Saya kira mereka juga tidak berambisi jadi manusia super. Mereka miliki itu semua dalam “sebuah bejana tanah liat”. Namun mereka mempertaruhkan hidup mereka, mendedikikasi diri untuk kepentingan umat.
Kalau kita mengharapkan “persembahan” imam itu kepada umatnya baik dan bermutu, maka kita juga tidak bisa hanya ingin menerima buah yang baik, tanpa ikut ambil bagian dalam menanam dan menyiram. Paulus menanam, Apolos menyiram. Karenanya kita perlu ambil bagian di dalam proses mendidik para imam itu.
Dalam perayaan mengenang 100 tahun meninggalnya Santo Arnold Janssen, pendiri Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini) di aula Biara Bruder Santo Konradus Ende, 15 Januari 2009 lalu, Uskup Agung Ende Mgr Vincentius Sensi Potokota mengatakan dengan jelas bahwa umat Katolik Flores berbangga dengan mengirim banyak misionaris ke luar negeri. Sampai saat ini sekitar 200 imam dan bruder dari Serikat Sabda Allah bekerja di lima benua. Belum termasuk suster-suster SSpS dari Flores. Panggilan yang subur ini tidak terlepas dari devosi-devosi yang benar yang diwariskan serikat ini kepada umat Katolik Flores.
Namun Uskup Agung ini juga mengajak – dia sebut sebagai lontaran gagasan – umat Katolik Flores untuk memikirkan dan membahas di dalam komunitas basis apa yang dapat disumbangkan umat Katolik Flores untuk kepentingan para misionaris ini. Menolong dan membantu kesulitan mereka di tanah-tanah misi.
Ajakan ini sudah mulai menyata. Dalam pertemuan kami Minggu 22 Maret 2009 itu, Piet Puli bilang Dewan Pastoral Paroki Onekore sudah menyetujui bahwa sebagian dari keuangan Paroki akan disumbangkan bagi lembaga pendidikan calon imam tersebut. Saya kira ini berita bagus bahwa umat diajak untuk ikut bertanggung jawab. Karena yang dididik di lembaga itu adalah putra-putra mereka juga.
Alumni STFK Ledalero dan sebuah permintaan kecil dari almamater dalam rangka 40 tahun sekolah ini dapatlah dilihat dalam konteks keterlibatan di dalam proses pembentukan imam untuk menjawabi kebutuhan manusia modern saat ini. Imam-imam Katolik harus bisa menjawabi tuntutan zaman. Dia tidak boleh menarik diri dari peradaban modern. Tapi di masuk di dalamnya dan mengambil peran untuk mengarahkan perubahan itu di dalam terang Sabda Allah.
Kita boleh mengatakan, para imam tidak hanya manusia baru di dalam Kristus tapi manusia baru di dalam menghadapi tantangan zaman. Kemampuan mengelola arus zaman agar perahu kebaikan dan keadilan bersama itu tidak oleng kemoleng (meminjam istilah almarhum Pater Ozias Fernandes SVD saat masih kuliah dulu) menuju kebatilan. Tapi perahu dibawa oleh embusan Ilahi menuju kebaikan bersama (bonum commune). Dengan ini hendak saya katakan bahwa mungkin tidak terlalu fair jika kita menuntut pemberian yang terbaik dari almamater tanpa peduli dengan kondisi lembaga.
Alumni berada dalam satu wadah bukan saja untuk kepentingan dapur pendidikan imam. Tapi juga kepentingan para alumni itu sendiri. Mereka adalah buah yang bisa dipetik dari panti pendidikan imam tersebut. Mereka juga agen pastoral yang mesti memberi citra positif bagi perkembangan masyarakat.
Saat ini sudah banyak alumni Ledalero berada di dalam birokrasi, di sektor swasta dan sudah ada pula yang berada pada posisi-posisi strategis yang bisa mengarahkan perubahan di dalam masyarakat. Tantangan yang tidak ringan adalah bagaimana memberikan citra positif pada perkembangan masyarakat. Dalam hal apa saja. Terutama kebutuhan politik riil di Flores sekarang yakni perlunya nilai-nilai dan moralitas dalam berpolitik. Bagaimana politik diabdikan bagi kepentingan rakyat banyak. Bagaimana politik tidak merusak martabat manusia. Tidak merusak lingkungan alam dan lingkungan sosial. Dalam bahasa Injil, bagaimana mereka menjadi garam dan terang dunia. “Kalau garam jadi tawar, dengan apa ia akan diasinkan”. Jika lampu diletakkan di bawah kaki dian, dia tidak bisa dilihat orang. Pelita harus ditempatkan di atas kaki dian agar semua orang bisa melihatnya.
Berada dalam jaringan alumni tidak lain ingin memperbesar jaringan kerja sama agar memberi warna pada kehidupan sosial politik dan budaya di Flores. Alumni adalah buah yang dipetik dari tempat bersandarnya matahari: Ledalero.
Flores Pos |Feature |Alumni
|3 April 2009 |
Selengkapnya...
15 Maret 2009
Kemitraan Australia-Indonesia untuk Kibbla
Oleh Hubert Uman
BAJAWA - Program kemitraan antara Pemerintah Australia dan Indonesia di Kabupaten Ngada yang sedang dilaksanakan ialah penanganan kesehatan ibu dan bayi baru lahir (Kibbla). Program ini dibiayai pemerintah Australia dan Indonesia dalam hal ini Departemen Kesehatan. Pelaksanaannya berlangsung selama tiga tahun, 2008-2011.
Menurut Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Ngada Kosmas D. Lana, yang menarik dalam program, pihak Australia tidak membuat program sendiri. Mereka hanya mendukung program yang sudah direncanakan oleh Pemerintah Daerah.
“Tujuan jangka pendek program ini menuju persalinan selamat (MPS). Tujuan jangka panjangnya, untuk mencapai kesehatan ibu dan anak secara efektif serta memfasilitasi pendekatan lintas sektor. Sebab untuk kesehatan ibu dan anak bukan hanya tugas dinas kesehatan saja. Butuh keterlibatan sector lain,”kata Kosmas D Lana di ruang kerjanya, Sabtu (14/3).
Dia menjelaskan, instansi yang terlibat dalam program Kibbla ini, Bappeda melakukan kegiatan pra-Musrenbang Kibbla, Dinas Kesehatan mengadakan pelatihan bidan-bidan atau tenaga kesehatan, Dinas kependudukan, Catatan Sipil, dan Keluarga Berencana mengadakan pelatihan KIE, dan BPMD dalam melakukan sosialisasi Kibbla dalam kaitannya dengan siaga. Untuk koordinasi, pihak Australia menempatkan konsultannya yakni Henyo Kerong di Bajawa dan berkantor di Bappeda.
Disampaikan oleh Fasilitator Provinsi Untuk Kibbla C. J. H Fernandes, Puskesmas sasaran program Kibbla ini ada tiga yakni Puskesmas Koeloda di Mataloko Kecamatan Golewa, Puskesmas Waepana di Kecamatan Soa, dan Puskesmas Maronggela Kecamatan Riung Barat.
Program kemitraan Australia-Indonesia untuk Kibbla ini, kata Fernandes, bersifat mendukung kegiatan yang diprogramkan Pemda. Dalam pelaksanaannya dibentuk satu tim yang namanya Distric Team Problem Solving (PTPS) yang anggotanya dari Dinas Kesehatan 7 orang, Bappeda 2 orang, dan BPMD, KCKB, IPPN (Ikatan Persatuan Perawat Nasional) IBI (Ikatan Bidan) dan RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) masing-masing satu orang.*
Selengkapnya...
16 Februari 2009
Kantor Dinas PPO Terbakar
Oleh Yusvina Nona
ENDE -- Kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ende di Jalan Soekarno, Sabtu (14/2) terbakar sekitar pukul 11.30. Api membumbung tinggi, membakar dan menghanguskan seluruh ruangan kantor. Hanya beberapa peralatan dan perlengkapan kantor yang bisa diselamatkan, sebagian besar hangus dilahap si jago merah. Kerugian sampai saat ini belum dapat dipastikan. Namun diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Alfons Keli, staf pada Bagian Tata Usaha Dinas PPO yang hari itu masuk kerja mengatakan dia tidak tahu dari mana datangnya sumber api. Dia bersama 2 temannya Pak Sipri dan ibu Sarmento dikagetkan oleh teriakan Kepala Dinas (Kadis) PPO, Agustinus Amby.
“Hari ini (Sabtu, 14/2) kami lembur mau menyelesaikan bahan usulan sertifikasi para guru S1 tahun 2008/2009. Tiba-tiba kami dengar teriakan Pak Kadis. Kebakaran. Karena melihat Pak Kadis dan banyak pegawai yang lari dari ruangan program, kami bertiga langsung lompat lewat jendela ruangan. Kami hanya bisa menyelamatkan sebagian bahan kenaikan pangkat dan usulan sertifikasi. Kami tidak tahu dari mana datangnya sumber api,”katanya menambahkan hari itu, kurang lebih ada 20 orang pegawai Dinas PPO yang lembur.
Alfons juga mengatakan api menyambar begitu cepat melalui plavon.
Nampak wajah sedih dan perasaan terharu para pegawai Dinas PPO yang datang menyaksikan kejadian itu. Ibu Lis Gauraja, Pengawas TK, SD dan Penasehat Lokal Kabupaten Ende dan Benediktus Djegho, Kepala Seksi (Kasi) Perencanaan pada Dinas PPO secara terpisah di lokasi kejadian mengatakan kebakaran itu sulit dipercaya.
“Api menghabiskan semua arsip penting. Begitu banyak data yang hilang. Harus dimulai dari nol lagi,”kata Benedikstus Djegho.
Dia kemudian menguraikan satu meja kerjanya dan beberapa unit komputer saja yang berhasil diselamatkan.
Begitupun dengan ibu Lis Gauraja langsung melihat peralatan dan perlengkapan ruangannya, pusat pembelajaran. “Saya ini dapat informasi kebakaran dari teman pengawas. Saya ada kunjungan ke SDI Watujara. Saya langsung ke sini. Sedih sekali saya melihat semua ini. Saya harus memeriksa, apa-apa saja barang-barang milik pusat pembelajaran yang selamat,”katanya.
Beberapa peralatan dan perlengkapan di ruangan pusat pembelajaran berhasil diselamatkan. Seperti mesin fotokopi, warless, file cabinet, beberapa unit kursi dan meja kerja.
Seperti yang disaksikan, peralatan dan perlengkapan termasuk beras gaji jatah guru dan pegawai yang berhasil diselamatkan berceceran di halaman Kantor Dinas PPO. Empat mobil tanki air masing-masing satu unit dari Polres Ende, satu unit dari UD. ASRI, satu unit dari PDAM dan satu unit dari Dinas PU berhasil memadamkan api sekitar pukul 13.30. Anggota TNI AD dari Kompi C membantu memadamkan api.
Sebelumnya pada awal kejadian, tukang ojek yang sering mangkal di depan kantor dinas turut membantu menyelamatkan barang.
Api yang telah berhasil dipadamkan pada kejadian siang itu, kembali menyala pada malam harinya sekitar pukul 19.00. Api menyala di dua ruangan yakni ruangan tata usaha dan ruangan keuangan. Padahal, sore harinya hujan mengguyur Kota Ende begitu lebat. Bahkan, asap api masih tampak hingga Minggu pagi.
Belum Tahu
Wakil Kepala Kepolisian Resor (Waka Polres) Ende, Kompol Arly Jembar Jumhana di lokasi kejadian mengatakan polisi belum tahu penyebab terjadinya kebakaran bekas kantor Bupati Flores dan Kampus Universitas Flores itu.
“Pertama kita lakukan adalah diisolir dulu lokasi ini. Kita konsentrasi pada api dan barang-barang yang bisa diselamatkan. Kita bersyukur karena tidak ada korban jiwa,”katanya.
Dia juga mengatakan setelah selesai padamkan api dan mengamankan barang-barang yang berhasil diselamatkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan tim Reskrim untuk menyelidiki sebab-sebab kebakaran.
Dikatakan, mengingat Ende belum memiliki mobil pamadam kebakaran, upaya yang dilakukan untuk memadamkan api menggunakan mobil tanki air yang selama ini dimanfaatkan untuk melayani masyarakat.
Kebakaran yang terjadi di Dinas PPO merupakan kejadian yang ke-4 kalinya dalam dua bulan terakhir. Kejadian pertama terbakarnya bekas rumah makan Pondok Bambu di Jalan Banteng, kejadian ke-2 menimpa Pub dan Karoke Betta Beach di Kelurahan Mautapaga. Kejadian ke-3 di Kelurahan Paupire yang menghanguskan 3 rumah warga.
Selengkapnya...